Bulan Februari identik dengan permen, kue, atau sesuatu yang manis. Memang kita dan saudara kita yang keturunan Tionghua merayakan hari yang spesial pada bulan Februari, yaitu Hari Tahun Baru Imlek dan Hari Valentine. Dalam rangka memperingati ke dua hari tersebut, rangkaian kegiatan dalam rangka HUT SD Marsudirini St. Yoseph, pada Bulan Februari diadakan kunjungan ke Klenteng Hok An Kiong yang terletak di Jalan Pemuda Muntilan. Penduduk Tionghua di Muntilan memang cukup banyak dan tidak sedikit dari mereka yang beragama Budha dan Konghuchu. Kunjungan ke Klenteng Hok An Kiong ini dimaksudkan agar peserta didik memiliki rasa kasih dan toleransi kepada sesama yang memiliki kepercayaan berbeda.
Hari ini, tepatnya tanggal 23 Februari 2024 acara kunjungan ke klenteng dilaksanakan. Wajah cerah secerah matahari yang bersinar tanpa awan menutupnya dibalut baju nuansa merah menyala mewarnai halaman SD Marsudirini St. Yoseph.. Setelah renungan pagi, sekitar pukul 07.00WIB rombongan kelas IV-VI menuju klenteng dan pada pukul 08.00WIB rombongan kelas IV-VI menyusul ke Klenteng. Pembagian rombongan ini karena tempat doa di klenteng tidak cukup menampung seluruh peserta didik SD Marsudirini St. Yoseph.

Sebuah bangunan berwarna merah dengan hiasan naga di atapnya nampak menyembul indah di Jalan Pemuda Muntilan. Itulah Klenteng Hok An Kiong. Rombongan SD Marsudirini St. Yoseph disambut oleh beberapa orang Tionghua dengan ramah. Mbak Astrid dan Pak Comlin segera membawa kami ke sebuah ruang untuk berbincang tentang klenteng. Klenteng Hok An Kiong adalah tempat untuk pemujaan arwah leluhur, jadi sebetulnya klenteng Hok An Kiong terbuka bagi semua orang dari golongan manapun. Mereka yang beragama apapun boleh singgah di sini untuk menghormati arwah para leluhur. Dewa-dewa kalau dalam ajaran Agama Katholik adalah orang suci yang biasa disebut santo santa. Mereka dahulu hidup seperti kita namun memiliki teladan atau keutamaan hidup. Karena mereka orang kudus dan pasti dekat dengan Tuhan, maka mereka patut untuk dihormati dan menjadi pendoa bagi kita yang masih mengembara di dunia ini.

Di samping pintu masuk klenteng nampak lukisan dewa-dewa penjaga. Setiap klenteng memiliki tuan rumah. Tuan Rumah Klenteng Hok An Kiong adalah Kongcow Pek Tong Sin atau Dewa Bumi yang terletak di tengah. Setelah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita lalu menghormat ke tuan rumah. Dewa-dewi di setiap klenteng juga berbeda, misalnya kalau di Klenteng Hok An Kiong ada Dewi Kuan Im, di klenteng lain belum tentu ada. Klenteng Hok An Kiong adalah klenteng Tri Darma, ajarannya merupakan gabungan tiga ajaran kebaikan, yaitu Budhisme, Konghucu dan Taoisme. Menurut sejarahnya di Tiongkok Cina, hal-hal yang baik dari ke- tiga ajaran kebaikan ini menjadi satu juga dan berlaku secara umum seperti di sini.
Di ruang sebelah kanan dari Dewa Bumi, ada ruang Dewa Kongcow Sum Nyo, Dewa Obat. Kalau kita sakit dapat memohon bantuan Dewa Obat. Di sebelah kiri ada ruang penghormatan untuk Dewa Bintang Utara untuk menolong orang kesurupan. Dewi Kwan Im, Dewi Welas Asih yang suka menolong saat kita dalam kesulitan juga merupakan salah satu dewi di Klenteng Hok An Kiong. Ada juga Dewa Perantauan, Kong Tek Tjun Ong.

Kita bergeser menuju sisi kiri, ada sebuah ruang shio. Di Ruang berisi banyak shio berisi dua belas hewan yang mewakili waktu. Misalnya tahun 2024 merupakan tahun Shio Naga dengan unsur kayu. Bagi yang berkenan dapat melihat shionya apa, peruntungannya bagaimana, dan jika kita kurang beruntung, dan pada awal Maret dapat mengikuti acara tolak balak atau disebut Ciswak.

Di dalam klenteng juga banyak ditemukan lampion merah yang cantik. Selain sebagai penerang lampion dimaknai sebagai penerang perjalanan hidup umat. Di Klenteng Hok An Kiong, lampion ini diisi dengan tulisan-tulisan Huruf Hanzi yang unik. Tulisan itu adalah nama-nama pendana yang peduli kepada Klenteng. Tulisan dipasang dalam lampion agar dilihat oleh dewa dewi yang akan melihat dan mendoakan orang tersebut.

Setelah selesai mengenal tentang Klenteng Hok An Kiong, kami menuju ke aula untuk bertanya jawab dengan Pak Comlin. Sepanjang selasar menuju ke aula, kami menemukan ruang untuk menghormati para leluhur. Salah satu ruang berisi gambar Gus Dur. Gus Dur adalah orang yang layak disebut sebagai pahlawan karena memperjuangkan Agama Konghucu untuk diakui keberadaannya oleh negara.

Dalam sesi tanya jawab banyak hal yang ditanyakan, seperti mengapa Imlek identik dengan warna merah, arti lampion, bagaimana sejarah Imlek, di Klenteng orang menyembah apa, angpao untuk siapa? Keren ya pertanyaan-pertanyaannya? Beberapa jawaban dapat kalian temukan dalam tulisan Serba-Serbi Imlek di Web SD Marsudirini. Silahkan dicari ya! Di sela-sela tanya jawab ada tampilan tari Gong Xi Fa Cai yang lincah dari peserta didik kelas III.

Puncak acara dari kunjungan ini adalah pertunjukan barongsai dan berbagi kasih. Dana untuk berbagi kasih merupakan hasil pengumpulan sisa uang jajan peserta didik yang kemudian dibelikan bahan makanan. Ada dua barongsai berwarna hitam dan putih imut dan lucu tampil dalam acara ini. Waaah pertunjukannya sangat seru, sayang peserta didik terlalu gemas pada barongsai. Mereka mengerubuti barongsai dan membelai tubuhnya dengan lembut. Ada juga yang bermain ekor barongsai, sehingga barongsai kurang maksimal beratraksi. Dengan penuh semangat, peserta didik juga memasukkan angpao di mulut barongsai. Sifat dermawan peserta didik sungguh patut ditiru. Acara kunjungan ke Klenteng berlangsung dengan baik dan lancar. (Wiwik Lucia)
Tinggalkan Komentar