Pertama kali bertemu dengan Suster Gerda, beliau adalah sosok yang tidak banyak berbicara. Semakin hari kami mengenal beliau, ternyata memang beliau bukanlah orang yang banyak berbicara. Namun demikian, Suster Gerda adalah pribadi yang sangat peduli dengan segala sesuatu, terlebih lingkungan. Barang yang seakan tidak berguna oleh beliau dimanfaatkan. Salah satunya adalah bunga kamboja yang mekar mewangi di halaman utara SD Marsudirini St. Yoseph. Di pagi hari bunga-bunga cantik ini akan berjatuhan setelah memberikan keindahan dan keharumannya sepanjang hari kemarin. Bunga yang seakan hanya menjadi sampah ini dipungut oleh Gerda kemudian dijemur. Bunga-bunga itu akan dimanfaatkan untuk aroma terapi.



Suatu hari, beliau membawa botol bekas air mineral. Di dalamnya telah beliau isi dengan bunga kamboja, daun pandan dan entah apalagi. “Dibuat Eco Enzyme”, kata beliau. “Ini sedang diproses untuk membuat aroma terapi, sedangkan ampasnya diperas kemudian dikeringkan untuk wewangian kamar”, lanjut beliau. Waah, benar-benar kreatif ya!
Sebenarnya, apa ya, eco enzym itu? Eco-enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang berupa ampas buah dan sayuran, yang dicampur daun wangi serta bunga yang harum baunya dengan cara difermentasi menggunakan gula. Sampah bunga kamboja menjadi salah satu alasan pembuatan eco-enzym di SD Marsudirini St. Yoseph. Di samping itu, eco enzym mudah dan tidak memerlukan lahan yang luas serta hemat. Pembuatan eco enzym sangat cocok bagi peserta didik SD untuk belajar memotong, bekerjasama, meningkatkan kemampuan motorik, menanamkan rasa cinta dan peduli lingkungan. Wadah yang digunakan pun merupakan barang bekas seperti botol bekas air mineral, jadi mendukung konsep reuse dalam penyelamatan lingkungan.


Bertempat di lapangan utara SD Marsudirini St. Yoseph yang asri, pembuatan eco enzym dilakukan, yaitu tanggal 9 September 2022. Bahan yang digunakan berupa sampah organik sayuran, buah dan bunga serta daun wewangian, dicampur gula merah dan air. Perbandingannya 3:1:10. Semua siswa yang terlibat sangat bersemangat memotong sampah organik, daun pandan dan bunga kamboja. Dengan sigap para guru dan suster dan Mas Rama mengarahkan dan membantu apa yang harus dilakukan peserta didik.
Proses fermentasi dalam pembuatan eko-enzynm berlangsung selama 3 bulan. Tak terasa telah tiba saat yang ditunggu-tunggu, panen Eco Enzim dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2022. Semua berdebar, seperti apa gerangan hasilnya? Apakah berbau busuk, atau seperti apa? Suster Gerda, Bu Eri, Bu Dewanti, Bu Senti, Bu Nina, beserta peserta didik sudah tidak sabar melakukan panen. Suasana begitu ceria. Ternyata cairan yang dihasilkan berwarna coklat gelap dengan aroma asam manis yang kuat. Bau harum yang khas mulai tercium. Mereka menciduk dan menyaring cairan eco enzym. Wah ternyata hasilnya banyak sekali. Semua botol dan jerigen penuh berisi eco enzym. Eco enzym dapat digunakan untuk pupuk cair organik, campuran deterjen, pembersih lantai, pembasmi hama, pembersih kerak, bahkan untuk spa yang membantu peredaran darah. (Wiwik Lucia)


Sumber dari internet dan pengalaman pribadi
Tinggalkan Komentar