Kita pernah mengalami tahun-tahun kelabu, saat kita merayakan Hari Rabu Abu secara virtual. Bukan hanya Hari Rabu Abu, bahkan Hari Raya Paskah maupun Hari Raya Natal, semua dirayakan secara virtual. Kita patut bersyukur, kini di tahun 2024 kita dapat merayakan secara langsung walaupun di paroki masing-masing karena bertepatan dengan pesta demokrasi. Tema Rabu Abu tahun ini adalah, “Tinggal dalam Kristus, Tumbuh dalam Iman, berbuah dalam Kesaksian”. Rabu Abu mengingatkan bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Rabu Abu merupakan awal atau hari pertama masa prapaska atau pertobatan yang diwujudkan dengan berpantang dan puasa sebelum kita memasuki Perayaan Paskah. Kita diharapkan untuk dapat mengendalikan diri dari kesenangan-kesenangan duniawi.
Abu dibuat menggunakan daun palma yang dipergunakan saat Perayaan Minggu Palma tahun lalu yang dikumpulkan kemudian dibakar (disem palem). Daun-daun palma untuk perayaan Minggu palma menjadi benda rohani karena telah diberkati oleh romo. Pemanfaatan daun palma Ini selain digunakan untuk benda rohani kembali juga merupakan salah satu cara juga untuk merawat barang rohani yang justru akan mengganggu pemandangan karena rusak. Benda rohani adalah barang didedikasikan untuk menghormati Tuhan, maka tidak pantas jika kita membuang dengan sembarangan. Kita harus memperlakukan dengan hormat, tidak asal dibuang dengan sembarangan. Jika abu untuk perayaan Rabu Abu sisa pun harus dikembalikan lagi ke dalam tanah.
Saat mengoleskan atau menaburkan abu di kepala, imam atau prodiakon mengucapkan,“ bertobatlah dan percayalah kepada Injil, atau Ingatlah engkau berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu. Sebelum ditemukan atom, Abu atau debu merupakan benda terkecil dan melambangkan kerendahan hati. Jika kita terkena debu pun kita akan mengibaskannya dari tubuh kita karena abu membuat kita kotor. Jadi manusia tanpa kasih Allah bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung kita melaksanakan puasa, yaitu makan kenyang sehari sekali. Untuk pantang dilaksanakan setiap jumat selama 7 jumat sampai Jumat Agung. Mereka yang wajib puasa umur 18-60th. Anak yang genap berusia 14 th berpantang, yaitu tidak makan makanan yang disukai. Berpantang dapat dilakukan setiap hari jumat sepanjang tahun, kecuali hari jumat agung. Saat berpuasa tidak boleh ditunjukkan kepada orang lain apalagi distatus, untuk pamer. Saat berpuasa kita perlu untuk diam diri, merenungkan arti puasa itu. Dari pengendalian diri yang diwujudkan dalam berpantang dan berpuasa, semoga kita dapat menemukan kekuatan iman dan dilayakkanNya merayakan Paskah. Berkah Dalem.(Lucia Wiwik)
Tinggalkan Komentar