Setiap orang hidup, suatu saat entah kapan pasti akan meninggal dan menjadi arwah. Mengapa Gereja mengajak kita untuk mendoakan arwah? Dasar Teologis dari perayaan Hari Arwah adalah ajaran Gereja bahwa arwah orang yang dipanggil Tuhan belum disucikan sepenuhnya dan harus masuk dalam api penyucian agar layak masuk ke dalam kebahagiaan surga. Dalam Matius 22:1-14 dikisahkan, “Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anakmya. Ketika raja itu masuk dan bertemu dengan tamu-tamu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta dan berkata, hai saudara, bagaimana engkau masuk kemari dengan tidak mengenakan pakaian pesta. Orang itu diam saja, lalu raja menyuruh hamba-hambanya untuk mengikat kaki dan tangannya dan mencampakkannya di kegelapan yang paling gelap”. Tentu kita sangat tidak ingin jika orang yang kita kasihi menderita dan tidak diperkenankan masuk ke keabadian yang bahagia, maka kita mengenang dan mempersembahkan doa bagi semua orang yang kita kasihi dan telah meninggal agar mereka dilayakkan Allah untuk masuk ke keabadian bertemu dengan Tuhan Allah.
Gereja merayakan peringatan Hari Arwah tanggal 2 November, tepat setelah Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November). Dengan mempersembahkan Korban Ekaristi pada Hari Arwah, imam bersama umat mengharap agar semua orang beriman yang telah wafat disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Hal ini menunjukkan adanya refleksi iman, ada ikatan kasih yang kuat antara yang masih hidup, sudah meninggal, dan yang sudah berbahagia di surga. Ekaristi Kudus adalah persembahan tertinggi dan merupakan pernyataan kasih Allah kepada manusia secara utuh, total karena sesungguhnya tidak ada satu orang pun yang dapat masuk kedalam kerajaan Allah tanpa KerahimanNya atau belas kasih Allah.
Sejak awal tradisi memperingati dan mendoakan arwah telah berkembang dalam Gereja melalui teks-teks liturgi.Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi/penghapusan hukuman, dan penetensi/silih/laku tobat untuk yang sudah meninggal. Di dalam Kitab Perjanjian Lama kita belajar dari Para Bapak Gereja, Yudas Makabe mendoakan arwah orang-orang yang gugur dalam pertempuran melawan Gorgias (2 Mak 12:38-45). Santo Paulus pun berdoa bagi Onesiforus, kawan yang mengunjunginya di Roma (2 Tim 1:18). Pada abad ke-4, St. Yohanes Krisostomus, Uskup Agung Konstantinopel, berpesan dalam homilinya, “Baiklah kita membantu dan mengenangkan mereka [yang telah meninggal]. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (Ayub 1:5).Pada zaman dahulu, di awal Kristianitas, mendoakan arwah dengan cara, nama umat yang meninggal dicatat pada plakat yang disebut diptych. Sesuai tradisi para Benedictin mendoakan arwah pada Hari Sabtu sebelum Pentakosta. Di Spanyol dan Jerman pun muncul praktek ini. Tahun 1030 St. Odilo seorang Abbas Biara Benediktin di Cluny menetapkan diadakan peringatan arwah setiap tahun di biara-biara ordonya.
Mendoakan arwah dilakukan juga oleh mereka yang memiliki keyakinan lain dengan harapan agar para arwah diampuni dosa-dosanya dan diterima di sisi Tuhan. Ada pengalaman dari Herwiratno seorang yang dapat berkomunikasi dengan arwah dalam tulisannya di internet. Para Arwah sangat merindukan doa dari yang masih hidup untuk menyelamatkan jiwanya. Lebih lanjut menurut Herwi, arwah sangat bahagia jika diajak berdoa karena momen ini sangat mereka rindukan. Mereka seperti mendapatkan tetesan air segar.
Naah, ternyata begitu luar biasa ya,doa untuk arwah.Peserta didik SD Marsudirini St. Yoseph pun harus rajin mendoakan arwah leluhurnya sebagai tanda kasih kepada mereka yang telah mencintai dan menyayangi kita selama hidup mereka. Berkah Dalem. (Lucia Wiwik)
Tinggalkan Komentar