Setelah semalaman Bumi Muntilan diguyur hujan, pagi ini cuaca agak mendung. Awan tipis menggantung di langit. Mentari seakan malas beranjak dari peraduan. Daun-daun dan rerumputan masih basah kuyup. Burung gereja yang biasanya riuh berceloteh sambil berjingkrak diikuti burung pipit nakal memakan padi juga enggan keluar dari sarangnya. Namun demikian, keadaan ini tidak berpengaruh bagi siswa SD Marsudirini St Yoseph. Mereka tetap bersemangat masuk sekolah dengan ceria. Hari ini, tanggal 30 Maret 2026 adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur cukup lama dalam rangka hari raya Nyepi.

Pelaksanakan ibadat APP ke-3 masih masuk dalam nuansa lebaran Idul Fitri yang sangat kental dengan budaya bersalam-salaman untuk saling memaafkan guna mendapatkan kesucian pribadi. Sementara hari raya Nyepi identik dengan refleksi diri dan penyucian alam. SD Marsudirini St Yoseph memanfaatkan momen tersebut dengan ikut melaksanakan kegiatan saling memaafkan. Memaafkan sebenarnya sederhana namun sulit, apalagi ketika kesalahan yang dilakukan oleh orang lain membuat kita terluka bahkan kegagalan. Saat saling bersalaman merupakan saat yang baik untuk mengungkapkan isi hati secara tulus. Mungkin saat hari biasa kita melakukan kesalahan secara sadar atau tidak sadar dan kita malu untuk meminta maaf, maka saat hari raya Idul Fitri rasa ini dapat teratasi karena semua orang saling bersalaman untuk saling meminta maaf dan memaafkan.

Bu Santi sebagai MC membangun sikap pribadi setiap siswa sebelum kegiatan APP dimulai sampai semua siswa siap berdoa. APP dengan tema “Anak dan Remaja Bahagia” dipimpin oleh bu Arma. Ibadat APP dibuka dengan lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia”. Bacaan Injil tentang anak-anak yang tidak diperbolehkan datang kepada Tuhan Yesus oleh para rasul namun Tuhan Yesus menegur agar membiarkan anak-anak itu datang kepadaNya. Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya doa, sebuah film pendek diputar pada APP kali ini dengan judul “Mengapa Kita Harus Berdoa”. Digambarkan bahwa doa itu seperti oksigen, tanpa oksigen kita mati. Doa adalah nafas iman. Tanpa doa, iman kita tidak akan berkembang. Dalam doa kita membangun hubungan dengan Tuhan. Doa juga masuk dalam tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diluncurkan oleh Kemendikdasmen. Tujuh kebiasaan ini diharapkan dapat membentuk karakter dan kesehatan fisik/mental anak bangsa. Adapun tujuh pembiasaan tersebut adalah: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan bergizi, gemar belajar, bersosialisasi, dan tidur tepat waktu untuk mendukung pertumbuhan optimal dan disiplin sejak dini. Ibadat App ditutup dengan lagu Ku Mau Cinta Yesus.

Setelah ibadat selesai, dilanjutkan dengan berkegiatan di dalam kelas. Telah disiapkan gambar untuk diwarnai bagi siswa kelas 1 dan II sedangkan kelas III sampai kelas VI menggambar dan mewarnai gambar ketupat lucu. Setelah menggambar dan mewarnai, siswa mengumpulkan makanan sisa lebaran untuk dimakan bersama teman. Kegiatan berbagi makanan ini merupakan upaya membentuk karekter murah hati bagi siswa. Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar. Semua bergembira melaksanakan kegiatan hari ini. Ke depan mari kita semua semakin berkembang menjadi manusia yang berkenan bagi Allah dengan hidup suci. Kesucian begitu dekat dengan keseharian kita yaitu dengan melakukan segala sesuatu secara tulus. Berkah Dalem.

