Info sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • SD MARSUDIRINI ST YOSEPH "Semangat dan sukses"

SEJARAH PEKAN OLAHRAGA NASIONAL

Jumat, 15 Oktober 2021 Oleh : SD Marsudirini

Pada awalnya dahulu, tahun 1948, PORI dengan perantaraan KORI yaitu komite Olimpiade Republik Indonesia dengan Sri Sultan sebagai ketua mengajukan ikut olimpiade di London namun gagal. Hal ini dikarenakan 3 hal yaitu: waktu itu Indonesia belum terdaftar sebagai anggota PBB dan hanya sedikit negara yang mengakui kedaulatan RI. Ke-2, PORI yang dibentuk pada tahun 1946 kala itu juga belum menjadi anggota International Olympic Committee(IOC), dan yang ke tiga Inggris menolak paspor Indonesia. Paspor harus menggunakan paspor Belanda.

Untuk memelihara semangat yang membara dari para atlit, maka diadakan konferensi darurat PORI di Solo tanggal 2-3 Mei 1948. PORI menghidupkan kembali PON yang dulu diadakan oleh Ikatan Sport Indonesia(ISI) tahun 1938 dan 1942. PON I hasil keputusan Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI)yang merupakan hasil konggres di SOLO 1946 dengan ketua Widodo Sosrodiningrat membawahi olahraga sepakbola, basket, renang, atletik. Bulutangkis, tenis, panahan, bola kranjang,pencaksilat dan gerak jalan. 

Penetapan PON I pada tahun 1948 membawa semangat olahraga ke suasana pembangunan. Olahraga tidak hanya untuk kesehatan, namun sebagai sarana perjuangan dan pembangunan. Berdasarkan arsip Bpk Maladi yang kala itu menjadi sekretaris panitia besar  dan penyelenggara PON II di Jakarta, 8 September 1948 hari perjalanan bendera PON I dari Jogjakarta ke Solo dan tiba di Solo tanggal 9 September 1948 dibawa ke stadion Sriwedari diterima oleh Pangeran Surjohadimidjojo disertai lagu Indonesia Raya. Pada pukul 9.00 Presiden Soekarno meresmikan PON I.

PON I merupakan tonggak sejarah persatuan dan perkembangan olah raga dan peletakan dasar yang kokoh untuk perkembangan dunia olahraga nasional dengan ditandai penggabungan cabang olahraga dengan federasi olahraga Internasional. PON I juga memiliki dimensi politik meyakinkan dunia bahwa Indonesia benar-benar ada, benar-benar memiliki pemerintahan dan didukung oleh rakyat. Bapak Presiden Soeharto menyampaikan bahwa kita tidak mungkin mewujudkan masyarakat maju, adil dan sejahtera lahir batin jika masyarakat kita lemah jasmani dan Rohani. PON I bukan mempertaruhkan prestasi tetapi lebih untuk melengkapi proses pembangunan bangsa dan untuk melengkapi atribut suatu negara modern. Penetapan PON sebagai titik tolak reorientasi bahea yang menentukan hasil adalah proses, yaitu waktu, ketekunan, keuletan, gairah, iklim yang segar pengembangan.

Peserta lomba berasal dari kota-kota di Jawa. PON diikuti oleh 13 Karesidenan, yaitu: Banyumas 144 kontingen, Bojonegoro 31 kontingen, Jakarta 82 kontingen, Yogyakarta 148 kontingen, Kediri 117 kontingen, Madiun 70 kontingen, Magelang 35 kontingen, Malang 65 kontingen, Pati 111 kontingen, Priangan 72 kontingen, Semarang 60 kontingen, dan Solo 150 kontingen. Penonton mencapai 40.000 disetiap harinya. Adapun juara pertama adalah kontingen Solo dan juara ke dua dari Yogyakarta.

Pada tanggal 16 Mei  1948 Sri Sultan Hamengku Buwono IX usul tanggal 10 September sebagai Hari Olahraga Nasional, namun saat sidang KONI XIII pada 17 Mei 1983 menetapkan tanggal 8 Sept sebagai Hari Olahraga Nasonal. 35 tahun kemudian saat peresmian pemugaran stadion Sriwedari, Presiden Soeharto mencanangkan PON setiap tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional berdasarkan Keppres 67/1985, mengarah pada pembukaan PON I. Tahun 2018 Indonesia sukses sebagai negara penyelenggara Asean Games yang berlangsung pada tanggal 18 Agustus sampai 2 September 2020. Indonesia meraih 1 emas, 1 oerak dan 1 perunggu.

Kini PON XX di gelar di Papua mulai 2-15 Oktober 2021 untuk menyiapkan Asean games 2022 di Hanoi. Bapak Jokowi menekankan tentang olahraga bukan soal kalah menang namun melalui even ini menjadi pendongkrak ekonomi nasional. Hal ini disebabkan karena cakupan industri olahraga sangat luas, mulai dari evennya, pakaian olahraga, sepatu, bola, dan lain-lain. Tak menutup kemungkinan juga bagi Indonesia untuk mengembangkan pariwisata. Pada Hari Olahraga Nasional 2021 pemerintah meluncurkan desain besar olah raga nasional. Melalui desain Menpora memastikan semua program pembinaan olahraga dari hulu sampai hilir tertangani. Mulai dari penentuan cabang olahraga, penyeleksian, dll. Targetnya prestasi di even dunia. 

Siswi Marsudirini St. Yoseph pun dulu pernah ada yang menjadi atlit atletik pada PON X tahun 1981 di Jakarta dan berhasil mempersembahkan 3 medali emas dan 1 medali perak. Beliau adalah Meirina Diah Setyowati atau biasa dipanggil Mini. Mini juga menjadi atlit pelajar ASEAN di Singapura bahkan sampai Rumania. Berita Mini pun diliput dikoran nasional bahkan Internasional. Keren banget ya, siapa yang ingin seperti Kak Mini? Rajinlah belajar dan kembangkanlah talenta yang kalian miliki supaya binatang kalian bersinar seperti Kak Mini. Berkah Dalem.

1 Komentar

Klara , Kamis 21 Okt 2021

sukses selalu PON Indonesia

Reply

Tinggalkan Komentar

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Alamat

SD MARSUDIRINI ST YOSEPH MUNTILAN

Jalan Kartini no 14-16 Muntilan, Magelang 56411

Tlp : (0293) 585229

Email : sdstyosephmtl@gmail.com

Pengumuman

Diterbitkan :
Misa Perayaan Pelindung SD Marsudirini St. Yoseph
Mari ikut memeriahkan perayaan misa pelindung SD Marsudirini St. YosephSabtu, 19 Maret 2022
Diterbitkan :
Lomba Literasi Bulan Bahasa dan Sastra
Diterbitkan :
Seleksi Kompetensi Sains Nasional Jenjang Sekolah Dasar