Ketika kita melewati rawa, danau atau sawah basah, mata kita merasa sejuk dan kagum akan keindahan pemandangannya. Kita betah berlama-lama di sana untuk menikmati keindahannya bersama keluarga atau teman. Daerah rawa yang paling dekat dengan Muntilan adalah Rawa Pening yang ada di Ambarawa. Rawa itu kini menjadi tempat wisata yang seru. Di Rawa Pening, selain dapat menikmati pemandangan yang elok, kita dapat naik perahu menyusuri perairannya yang tenang. Di samping keindahannya yang mempesona, ternyata rawa, danau, sawah basah yang merupakan contoh lahan basah memiliki peran penting untuk kehidupan. Ada contoh lahan basah yang lain, yaitu delta, sungai, terumbu karang, kawasan bakau, waduk dan lahan gambut. Mari kita belajar tentang lahan basah!

Sebelum kita mengenal lebih dalam tentang lahan basah, kita harus tahu terlebih dahulu apa itu lahan basah? Lahan basah adalah wilayah yang terbentuk secara alami maupun buatan, merupakan pertemuan antara air dan tanah jenuh air, atau tanah yang sudah tidak dapat lagi menyerap air baik secara permanen atau musiman. Air di lahan basah bisa berupa air mengalir atau menggenang, entah itu air tawar, air payau atau air asin. Dalam kehidupan, lahan basah memiliki banyak peran. Dengan adanya lahan basah keanekaragaman hayati yang hidup di lahan basah terjaga. Di sawah basah kita dapat menemukan burung bangau, katak, ular, cacing, dan yang lainnya. Lahan basah merupakan sumber air bersih yang dapat menyerap karbon sehingga mencegah pemanasan global. Lahan basah dimanfaatkan untuk irigasi pertanian dan perikanan. Di dekat Muntilan kita dapat menemukan dam Kali Lamat, tampungan air di daerah Desa Duren, tampungan di Daerah Sendangsono, dan masih banyak lainnya. Lahan basah juga dapat menampung air yang berlebih sehingga mencegah terjadinya banjir dan melindungi pantai. Tanpa lahan basah, dunia akan sangat kekurangan air. Melonjaknya jumlah penduduk merupakan salah satu penyebab naiknya kebutuhan air bersih.

Mulai dari tahun 1970, peran lahan basah menurun atau mengalami kemerosotan atau terdegradasi karena berbagai hal, yaitu: kebakaran lahan, kerusakan lingkungan, pencemaran lingkungan, keanekaragaman hayati yang hilang, perubahan iklim, penggunaan teknologi, kebijakan para penegak hukum yang lemah, dan lain sebagainya. Lahan basah yang terdegradasi ini mendapatkan perhatian internasional yang kemudian pada tanggal 2 Februari mengadakan perjanjian dengan dihadiri, dilaksanakan dan disepakati serta ditandatangai oleh sekitar 172 negara. Perjanjian Internasional tersebut berupa kampanye yang disebut Konvensi Ramsar karena dilakukan di Ramsar, Iran. Kampanye konvensi Ramsar bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran global akan pentingnya lahan basah. Untuk mengingat kejadian di Ramsar, dijadikanlah 2 Februari sebagai Hari Lahan Basah Internasional. Tema Hari Lahan Basah tahun 2025 adalah “Protecting wetlands for our common future” yang diartikan “Jaga Lahan Basah untuk Masa Depan yang Cerah”, sama dengan tema yang digunakan untuk memperingati World Wetlands Day (WWD) 2025 di Indonesia. Perubahan fungsi dan bentuk wilayah yang tadinya merupakan daerah lahan basah menjadi wilayah perumahan atau lainnya inilah yang merupakan salah satu penyebab terjadinya bencana. Bencana yang kini banyak terjadi karena peralihan fungsi atau bentuk wilayah lahan basah adalah bencana banjir yang kini banyak terjadi di seluruh dunia. Peringatan Hari Lahan Basah mengajak kita untuk sadar menghentikan pencemaran pada lahan basah, melestarikan dan mengelola lahan basah, serta ikut berpartisipasi dalam pemulihan ekosistem lahan basah. Upaya menyembuhkan planet yang kita pijak ini sejalan dengan perjuangan Dekade PBB tentang Restorasi Ekosistem dari tahun 2021-2030.

Lahan basah sering disebut juga Ginjal Bumi. Seperti fungsi ginjal dalam tubuh membersihkan darah dari senyawa beracun, demikian juga fungsi lahan basah. Lahan basah menyerap karbon dioksida 3 kali lebih banyak daripada gabungan semua hutan di dunia, sehingga dapat membantu memperlambat pemanasan global dan mengurangi polusi. Kesadaran global akan pentingnya lahan basah sebagai strategi mitigasi perubahan iklim terbilang baru, yakni 15 tahun lalu. Dalam naungan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Pemerintah Indonesia secara resmi menargetkan pemulihan ekosistem gambut sekitar 1,2 juta hektare di tujuh provinsi prioritas dan rehabilitasi hutan mangrove 600 ribu hektare pada sembilan provinsi sampai 2024. Bentuk keseriusan pemerintah dalam hal ini nampak dalam agenda BRGM. Saat ini Pemerintah Indonesia fokus pemulihan ekosistem pada areal restorasi gambut di Provinsi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Sementara untuk mangrove, area kerja BRGM ada di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Papua.

Menurut Satyawan Pudyatmoko, Deputi Bidang Perencanaan dan Evaluasi BRGM dalam rangka Mitigasi perubahan iklim atau usaha untuk mengurangi risiko terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca., menekankan bahwa gambut maupun mangrove harus dikembalikan menjadi ekosistem basah seperti sediakala. Kebakaran lahan basah juga harus diminimalisasi agar tidak terjadi dampak terlepasnya emisi karbon. Menurunkan emisi rumah kaca melalui lahan basah yang menjadi ambisi pemerintah Indonesia di ranah global diwujudkan dalam komitmen menjaga suhu global dalam dokumen Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Melalui dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution(ENDC) Indonesia menyampaikan peningkatan ambisi penurunan emisi gas rumah kaca yang menargetkan penurunan emisi GRK Indonesia dengan kemampuan sendiri dari 29% meningkat ke 31,89% dan target dengan dukungan internasional sebesar 41% meningkat ke 43,20%. Ada 6 strategi untuk pemulihan ekosistem gambut dan mangrove, yakni reforestasi hutan, pembasahan kembali gambut yang terdegradasi, pencegahan kerusakan gambut, restorasi mangrove, pencegahan kerusakan mangrove, dan pengelolaan hutan lestari. Konservasi lahan basah memang harus melibatkan banyak pihak. Pemerintah dan masyarakat sekitar lahan basah dapat diajak bekerjasama untuk pelestarian lahan basah sehingga lahan basah semakin berdaya guna bagi masyarakat yang hidup bergantung kepada eksistensi dari ekosistem lahan basah tersebut. Ekosisterm rusak atau baik sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat di pesisir, karena dari sanalah mereka mendapatkan penghidupan. Dengan kata lain, ekosistem lahan basah adalah kunci untuk mencapai komitmen perubahan iklim Indonesia bahkan dunia.
Peserta didik SD Marsudirini St Yoseph dapat ikut berpartisipasi dalam menjaga lahan basah yang ada di sekitar kita, misalnya dengan tidak membuang sampah di sungai, kolam, empang, atau daerah lahan basah yang lain sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan. Selain lingkungan bersih dan sehat, membuang sampah pada tempatnya adalah perbuatan yang mulia. Wiwik
Sumber:
Tinggalkan Komentar