Orang hidup pasti berhubungan dengan sampah. Coba kita ingat apa yang kita lakukan di pagi hari. Sarapan roti dan kopi, misalnya, sudah ada sampah bungkus roti dan kopi serta ampas kopi. Lalu ibu membuat sarapan tempe goreng dan sayur kangkung, akan muncul sampah kupasan bumbu, sampah plastik pembungkus sayuran dalam kulkas serta sortiran sayuran. Lalu memasak tempe goreng, ada sampah bungkus tempe yaitu daun pisang dan plastik serta minyak goreng. Ternyata dari memasak sederhana seperti itu, sudah banyak sampah yang dihasilkan per rumah tangga. Jika satu desa, maka di pagi hari telah terkumpul sampah yang lumayan banyak, padahal hanya memasak tempe goreng dan sayur. Semakin banyak penduduknya, maka jumlah sampah pun akan terus melaju. Sampah selain mengganggu kebersihan lingkungan juga dapat menimbulkan efek rumah kaca bagi bumi kita. Kita sebagai warga Bumi diharapkan untuk mau peduli dengan keadaan Bumi sebagai tempat tinggal kita bersama. Kita semua pasti tidak ingin anak cucu kita menderita karena ulah kita sendiri.
Pada tahun 2020 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menaksir banyaknya timbulan sampah rumah tangga di Indonesia sekitar 67,8 juta ton per tahun. Berdasarkan survei dari Bappenas yang bekerjasama dengan Negara Jerman yang mensurvei 6 kota besar di Indonesia yaitu Kota Bukit, Kota Jambi, Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Cirebon, Kota Malang serta Kota Denpasar, per hari setiap orang menghasilkan sampah 0.7kg-1Kg. Sampah itu berupa sampah organik, anorganik dan sampah berbahaya. Jika dibuat rata-rata, per rumah tangga silahkan dihitung sendiri ya, karena jumlah orang di setiap rumah tangga berbeda. Di tahun 2025 timbulan sampah rumah tangga di Indonesia menurun, diperkirakan menjadi 56,6 juta ton. Penurunan jumlah timbulan sampah ini dapat disebabkan karena kesadaran masyarakat tentang sampah dan adanya upaya pengelolaan sampah yang lebih baik serta program-program yang mengurangi produksi sampah. Meskipun mengalami penurunan, namun tetap perlu perhatian khusus agar timbulan sampah tidak melebihi batas kapasitas tempat pembuangan akhir. Sepemikiran dengan tema Hari Peduli Sampah Nasional 2021, “sampah bisa menjadi bahan baku ekonomi”, maka sampah yang menggunung itu perlu ditindak lanjuti dengan penerapan 3R yaitu reuse, reduce, dan recycle. Reuse artinya menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. Salah satu yang membuat masyarakat rela berjerih payah memilah sampah karena ternyata sampah memiliki nilai jual. Sampah yang dapat didaur ulang akan dihargai dengan sepantasnya sesuai jenis.
Ada dua macam sampah, yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah harus dikelola dengan benar agar tidak menggunung dan menimbulkan bau tidak sedap yang berasal dari sampah organik yang membusuk dan menghasilkan gas metana karena proses penguraian alami. Bau tidak sedap tersebut di samping bisa meledak dapat mengakibatkan polusi udara. Sampah anorganik jika dibuang sembarangan akan mengganggu alam dan makhluk hidup karena lama terurai. Hal pertama yang perlu dan harus dilakukan dalam mengelola sampah adalah mengedukasi masyarakat sebagai penghasil sampah untuk membantu pengolahan sampah dengan benar. Setelah masyarakat tahu, diharapkan mereka dapat membuang sampah menurut jenisnya untuk memudahkan pemilahan. Contoh sampah organik adalah sisa makanan, daun kering dan sayuran. Sisa makanan selain dapat diolah menjadi kompos, dapat digunakan untuk makan ternak, sementara sampah sayuran dapat diolah menjadi yang lebih berguna atau dibuang ke kebun untuk pupuk. Kertas bertinta, kertas bekas, kertas karton dapat dikumpulkan dan dijual ke pengepul atau bank sampah untuk didaur ulang kembali sedangkan sampah anorganik berupa plastik dan kaleng aluminium harus dipilah menurut jenisnya. Setelah dipilah biasanya ada pemulung atau bahkan aparat pemerintah desa yang menggerakkan masyarakat untuk mengumpulkan sampah yang telah terpisah lalu dijual ke pengepul atau tukang rosok sampah lokal, bank sampah atau melalui aplikasi penjualan sampah seperti Rapel dan Kamibox yang selanjutnya distor ke pabrik untuk didaur ulang kembali. Hasil penjualan sampah dapat digunakan untuk kebersamaan di kampung.
Sampah yang telah dipilah dapat diolah kembali. Ada beberapa cara mengolah sampah organik. Sampah Organik dapat diolah dengan cara pengomposan dan eco-enzym. Pengomposan dapat secara anaerobik dan aerobik bahan bakunya sama, yaitu sampah organik yang berasal dari kebun seperti daun kering, rumput dan sisa rumah tangga seperti sisa makanan (sayur, cangkang telur, buah, daging, ikan), kulit buah, ampas kopi serta kotoran hewan yang akan menghasilkan biogas dan biomassa. Yang membedakan pengomposan ini adalah metodenya. Pengomposan aerobik efisien energi, memerlukan oksigen untuk membantu mikroorganisme menguraikan bahan organik dengan proses pengadukan atau pembalikan tumpukan secara teratur dan memerlukan waktu sekitar 40-50 hari untuk prosesnya. Sementara pengomposan anaerobik dibuat tanpa oksigen menggunakan wadah tertutup, melibatkan mikroorganisme anaerobik dan prosesnya lebih cepat sekitar 12 hari. Pengomposan anaerobik (tanpa oksigen) menghasilkan biogas (metana, CO2), asam organik dan kompos yang lebih lama, seringkali berbau tidak enak. Pengomposan aerobik menghasilkan material organik yang terdekomposisi berwarna cokelat kehitaman, berbau tanah, bertekstur remah seperti tanah, stabil secara biologis dan kaya nutrisi yang berguna untuk memperbaiki kualitas tanah serta mengurangi sampah organik dengan cepat karena adanya oksigen. Proses ini menghasilkan panas, CO2, H2O dan NH3. Sampah daging/susu yang tidak bisa diolah dalam pengomposan aerobik dapat diolah dalam sistem ini.
Pengolahan sampah organik dengan cara fermentasi berbahan sisa sayuran dan buah segar yang ditambah dengan air dan gula merah sebagai sumber karbon. Untuk mendapatkan aroma harum dan segar dapat ditambahkan bunga segar seperti melati, kamboja serta daun pandan. Pengolahan sampah ini tidak memerlukan lahan yang luas untuk proses fermentasi seperti pada pembuatan kompos. SD Marsudirini St Yoseph pernah mengolah sampah sayuran dan buah menjadi Eco enzyme bersama Suster Gerda. Produk eco-enzyme merupakan produk ramah lingkungan yang mudah digunakan dan dibuat. Dalam pembuatannya, eco-enzym membutuhkan container berupa wadah yang terbuat dari plastik, penggunaan bahan yang terbuat dari kaca sangat dihindari karena dapat menyebabkan wadah pecah akibat aktivitas mikroba fermentasi. Waktu pembuatan eco enzym selama 3 bulan. Jika berhasil, akan diperoleh cairan berwarna coklat terang yang berbau khas. Cairan eco enzym dapat digunakan untuk membersihkan wc, lantai rumah, bahkan mengobati gatal-gatal serta luka akibat diabetes. Sisanya dapat digunakan untuk aroma terapi dan pupuk. Untuk buah dan sayuran busuk, sebaiknya diletakkan di pojok sawah. Buatlah lubang menyerupai wadah besar. Setelah sayuran dan buah busuk dimasukkan ke dalam lubang. Biasanya di dalam sampah yang busuk akan muncul belatung karena lalat suka singgah dan melepaskan telurnya di sana. Dengan ditutup menggunakan sekam, daun kering, tanah atau sampah kayu, belatung akan mati dan hilang dengan sendirinya saat melewati umur kehidupan mereka. Ada juga pengolahan sampah dengan metode takakura yang belum banyak dikenal, yaitu pembuatan kompos dengan berbagai sampah organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Pada pengolahan sampah takakura sampah organik dimasukkan ke dalam keranjang khusus yang dilapisi kardus. Metode takakura mengandalkan fermentasi aerobik dengan bantuan mikroorganisme dari starter seperti EM4 atau bahan lokal seperti sisa tape agar tidak menimbulkan bau.
Bagaimana cara mengolah sampah anorganik? Minyak sisa penggorengan atau minyak jelantah dapat kita gunakan untuk penerangan rumah ketika listrik mati dan sebagai bahan pembuat sabun. Namun jika tidak dapat mengolahnya, dapat dikumpulkan dan kemudian dikirim ke tempat yang mengelola sampah minyak atau jelantah, misalnya ke @jelantah4changeSedangkan sampah glossy/Coated paper/sticker adalah sampah anorganik glossy yang memiliki permukaan mengkilap, berlapis lilin atau kemasan makanan yang menggunakan bahan mengkilap dan styrofoam adalah sampah yang tidak mudah terurai oleh alam. Sampah ini dapat dimasukkan ke dalam ecobrik. Ecobrik adalah botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik non-biodegradable seperti kantong atau bungkus makanan, menjadi balok bangunan yang kokoh dan dapat digunakan kembali. Ecobrick adalah sebuah metode solusi kreatif untuk mengurangi sampah plastik. Ecobrick mengubah limbah menjadi material konstruksi yang bernilai dan mencegah sampah terbuang ke TPA. Ecobrick berisi zat padat yang tidak dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme atau proses biologis dan dapat bertahan di lingkungan selama ratusan hingga ribuan tahun. Sampah jenis ini merupakan sumber utama polusi karena sifatnya yang persisten dan dapat melepaskan zat berbahaya ke lingkungan. Bahan yang ideal untuk ecobrick adalah sampah plastik, seperti kemasan makanan ringan, botol minuman, dan kantong plastik, yang telah dibersihkan dan dikeringkan, tea/coffee bags dari bahan alami juga dapat dimasukkan ke ecobrick jika tidak terbuat dari cotton dan hemp atau rami. Sampah kaca dan kaleng disebaiknya tidak dimasukkan ke dalam ecobrick karena dapat merobek botol plastik dan membahayakan saat pembuatan. Sampah ini perlu dipilah dengan benar untuk dapat didaur ulang dengan metode yang sesuai. Pohon besar atau kayu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan digunakan untuk memasak. Abu hasil pembakaran dapat diletakkan di sawah agar menjadi pupuk bagi tanaman.
Guna meminimalkan sampah, bahan makanan seperti daging dapat diolah dengan cara dipresto sehingga menjadi empuk semuanya. Tulang mengandung fluor yang bagus untuk tulang kita. Sisa-sisa tulang dan duri ikan yang tidak dapat kita makan, baru diberikan kepada kucing dan anjing. Agar makanan tidak bersisa, mari kita biasakan untuk memasak secukupnya dan mengambil sesuai porsi sehingga sisa makanan tidak kita temukan lagi. Membuang makanan, merupakan tindakan tidak terpuji. Di samping membuat udara tercemar, sampah makanan dapat menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Membuang makanan juga berarti merampok dari mereka yang berkekurangan. Untuk melaksanakan pola hidup sehat, ada baiknya kita juga mengurangi konsumsi makanan berminyak. Peserta didik SD Marsudirini St Yoseph siap untuk mencintai Bumi dengan mengolah sampah secara benar kan? Pasti! Salam cerdas olah sampah!