Info sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • SD MARSUDIRINI ST YOSEPH "Semangat dan sukses"
10 Oktober 2024

Pancasila Sakti, Jayalah NKRI

Kamis, 10 Oktober 2024 Kategori : Berita Sekolah / Blog

Setelah zaman penjajahan yang begitu susah, pasti dalam benak kita tidak pernah terbayangkan bangsa kita bangkit melawan bangsa sendiri. Sampai saat ini masih tetap dapat kita rasakan kepedihan akibat keganasan peristiwa G30 S PKI yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1965. Film tentang G30 S PKI dapat kita lihat di youtube dan kita renungkan, mengapa peristiwa mengerikan itu terjadi. Film yang tidak berperikemanusiaan itu dulu di tahun 1980an pernah diwajibkan untuk ditonton oleh seluruh anak Indonesia agar kita generasi muda waspada akan gerakan laten komunis. Bahaya laten adalah suatu bahaya yang dapat muncul kembali. Negara kita yang berupa kepulauan dengan berbagai keanekaragaman agama dan budaya sangat mudah untuk disusupi hal-hal yang tidak sesuai dengan ideologi bangsa kita. Kadangkala kita dibutakan dengan sesuatu yang mengatas namakan kebaikan dan merongrong kesatuan negara kita. 

Gerakan 30 September atau dikenal dengan istilah G 30 S  adalah peristiwa berdarah yang berlatar belakang kudeta bermaksud menggulingkan kekuasaan Ir. Sukarno dan mengganti Negara Indonesia sebagai Negara komunis. G 30 S terjadi dalam satu malam yaitu pada tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965. Gerakan ini dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia di bawah pimpinan D. N. Aidit yang sangat gencar menghasut warga Indonesia dengan memberikan iming-iming, “Indonesia akan lebih maju dan sentausa bersama PKI!”.  Dengan melibatkan Pasukan Cakrabirawa yang dipimpin langsung oleh Komandan Batalyon I Tjakrabirawa, Letnan Kolonel Untung Syamsuri, dalam peristiwa brutal ini gugurlah enam jendral dan seorang ajudan Jendral Ahmad Yani, yaitu Kapten Lettu Pierre Andreas Tendean. Gerakan dimulai dari Kota Jakarta dan Yogyakarta dengan mengincar Perwira Tinggi dan Dewan Jendral. Pada awalnya tujuan mereka hanya menculik dan membawa paksa para Jendral dan perwira, namun ada beberapa prajurit Tjakrabirawa yang memutuskan untuk membunuh para Perwira Tinggi dan Jendral. Mereka membawa para jendral ke Lubang Buaya. Jenderal-jenderal yang dibunuh di rumahnya oleh PKI adalah Jenderal Karel Satsuit Tubun dan Jenderal Ahmad Yani. Sisa dari Jenderal dan Perwira Tinggi yang tidak dibunuh akhirnya meninggal secara perlahan karena luka dari penyiksaan selama di Lubang Buaya.

Secara lengkap  mereka yang meninggal dalam peristiwa berdarah karena PKI adalah: Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Mayor Jenderal Siswondo Parman Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, Kolonel Katamso Darmokusumo adalah korban dari tragedi G30S/PKI di Yogyakarta, Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto korban meninggal dari peristiwa G30S/PKI di Yogyakarta, Ade Irma Suryani Nasution yaitu Putri Abdul Haris Nasution yang juga meninggal di kejadian G40S/PKI, dan Kapten Lettu Pierre Andreas Tendean yang meninggal di rumah Jenderal Abdul Haris Nasution yang merupakan ajudan dari Bapak Jendral Ahmad Yani. Mereka kini disebut Pahlawan Revolusi.

Bangsa Indonesia sangat terluka akibat Peristiwa G30 S dan menuntut agar PKI dibubarkan. Meski pernah berjasa dan menjadi kekuatan Presiden Sukarno dalam peristiwa Ganyang Malaysia, akhirnya PKI dibubarkan. Mandat Pembersihan PKI di semua struktur pemerintahan diberikan kepada Mayor Jendral Soeharto yang dikenal dengan Surat Perintah 11 Maret 1966. D. N. Aidit yang lari ke Jawa Timur pun diburu dan ditangkap. Anggota PKI dan para pengikutnya tidak diizinkan menjadi aparat negara. Ganyang Malaysia merupakan ungkapan Presiden Soekarno yang bertujuan menggagalkan pembentukan Federasi Malaysia.

Pada tanggal 30 September 2024, seluruh Warga Negara Indonesia mengibarkan Bendera  Merah Putih setengah tiyang sebagai lambang berkabung atas wafatnya para Pahlawan Revolusi, dan pada tanggal 1 Oktober 2024 SD Marsudirini St. Yoseph melaksanakan upacara bendera untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Pancasila dikatakan sakti karena Pancasila yang nilai-nilainya berakar dari nilai luhur bangsa tidak mudah digantikan dengan ideologi yang lain. Petugas upacara oleh seluruh Guru dan Karyawan. Sebagai Pembina Upacara Miss Endang dengan ajudan Pak Heri yang bertugas membawa teks Pancasila. Pembaca UUD 1945  Pak Yudi, Pemimpin Upacara Bu Rani dengan komendan peleton Bu Arma, Bu Septi, Bu Harlyn, Bu Wiwik, Pak Tiyok dan Pak Pri. Bu Ning bertugas sebagai dirigent, pengibar bendera Pak Angging, Bu Ery dan Bu Nina, protokol upacara oleh Bu Ari, sedangkan pembaca doa Bu Dewanti. Tak kalah penting, petugas UKS adalah Suster Gerda, Mbak Umi dan Mas Rama. Dalam amanatnya, Miss Endang menyampaikan bahwa zaman sekarang merupakan era keemasan Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara merupakan pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara kini digalakkan melalui kurikulum yang mengedepankan Pancasila dalam  program P5. Program P5 bertujuan agar peserta didik dapat mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sehingga Pancasila semakin bersinar dan tercermin kesaktiannya melalui generasi muda yang terdidik. Acara berjalan dengan baik dan lancar. Salam Pancasila Sakti!

Tulisan Lainnya

Oleh : SD Marsudirini

AKU PEMUDA PEMUDI INDONESIA

Oleh : SD Marsudirini

Hidup Berdampingan Dengan Lingkungan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Alamat

SD MARSUDIRINI ST YOSEPH MUNTILAN

Jalan Kartini no 14-16 Muntilan, Magelang 56411

Tlp : (0293) 585229

Email : sdstyosephmtl@gmail.com

Pengumuman

Diterbitkan :
Misa Perayaan Pelindung SD Marsudirini St. Yoseph
Mari ikut memeriahkan perayaan misa pelindung SD Marsudirini St. YosephSabtu, 19 Maret 2022
Diterbitkan :
Lomba Literasi Bulan Bahasa dan Sastra
Diterbitkan :
Seleksi Kompetensi Sains Nasional Jenjang Sekolah Dasar