Info sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • SD MARSUDIRINI ST YOSEPH "Semangat dan sukses"

Resensi Buku Judul Buku​: Komik Teens : Honesty – Kejujuran memang menyakitkan tapi tidak mematikan

Kamis, 12 Agustus 2021 Oleh : SD Marsudirini

Judul Buku ​: Komik Teens : Honesty – Kejujuran memang menyakitkan tapi tidak  mematikan
Penulis​​ : Park Kim Xiong
Penerbit ​: PT Elex Media Komputindo
Terbit Tahun​ : 2015
ISBN ​​: 9786020271620
Tebal Buku​ : 205 halaman

Vita adalah seorang anak perempuan yang memiliki hobi bermain game dan basket.Karena terlalu suka bermain game, Vita sering lupa waktu. Dia bermain game sampai larut malam dan ketika pagi menjelang sangat sulit untuk bangun. Vita sering terlambat pergi ke sekolah dan yang lebih parah lagi, Vita lupa mengerjakan PR. Ibu telah menasehatinya, namun sulit bagi Vita untuk berubah. Vita pun suka berbohong. Saat terlambat, Vita sering mengatakan hal yang tidak benar, seperti Orangtuanya sakit atau dirinya yang sakit. Vita menjadi terkenal sebagai anak yang suka berbohong.

Pak Alex guru seni di sekolah Vita akan mengadakan kemah. Semua anak kelas seni harus mengikuti acara ini dan menghasilkan karya seni. Karya seni dapat berupa puisi, lukisan, cerpen, komik, fotografi dan lain sebagainya. Vita sangat takut mengikuti kemah di alam terbuka. Untuk menenangkan hati, Vita pergi ke kuil untuk berdoa. Pada saat di kuil, Vita menemukan hp kuno yang tiba-tiba berdering dan Vita mengangkatnya. Ternyata yang menelepon Vita di masa depan. Dia mengatakan bahwa hidupnya sangat menderita dan miskin. Agar masa depannya baik, Vita harus mau memperbaiki diri. Vita harus menjadi pribadi yang jujur dan tidak berbohong, mengatakan segala sesuatu apa adanya dan tulus dalam bersikap.  Vita histeris dan memutuskan mulai saat ini tidak berbohong lagi.

Ibu marah karena Vita terlambat pulang sekolah. Setelah diberitahu alasannya pergi ke kuil untuk berdoa, Ibu pun tidak marah namun terbersit rasa kurang percaya. Hp yang ditemukan Vita berdering keras. Nenek misterius mengecek apakah Vita sudah mulai jujur. “Apakah jujur itu sekedar tidak berbohong,”, tanyanya kepada Nenek Misterius. Nenek menyarankannya untuk belajar kepada temannya tentang kejujuran dan ketulusan.

Pak Guru meminta tolong Vita untuk mengembalikan buku di perpustakaan. Vita memergoki Mitchel temannya yang jago membuat dan membaca puisi sibuk mencari buku puisi sambil berbicara sendiri kalau dia bisa mencontek puisi-puisi dari buku yang dia cari. Vita menceritakan hal tersebut kepada Nenek misterius. Vita menjadi lebih mengerti arti kejujuran yaitu menjadi orang yang sama baik ketika bersama orang lain maupun sendiri, tidak berubah dan mengelabuhi orang lain. Pribadi yang jujur itu konsisten.

Ayah Vita lupa membawa bekal makan siang. Vita mengantar bekal ke kantor ayah. Ayahnya berada di lantai delapan, jadi dia harus memakai lift untuk sampai ke ruang ayah. Saat di dalam lift, Vita bertemu dengan teman ayah yang sedang berbincang dengan atasannya. Vita menjadi tahu bahwa teman ayahnya tidak jujur kepada atasannya. Di depan atasannya teman ayah mengatakan senang bekerja di kantor, namun di belakang dia mengeluh dan mengatakan  kantornya tidak memuaskan.

Vita dan Tania berjanji untuk membeli tas bersama. Sepulang dari kantor ayah, Vita menuju ke toko tas. Dia menyukai sebuah tas karena warnanya yang bagus, tapi penjual tas menyarankan tas lain yang walaupun warna kurang menarik tapi jahitan dan bahannya bagus. Pada saat bersamaan dia melihat anak penjual toko tas memakai tas sesuai yang disarankan untuk Vita. Berarti penjual tas itu jujur dan memiliki kesamaan kata di hati dan di bibir. Vita sangat senang belajar tentang kejujuran, “seperti bermain game”.

Hari berkemah telah tiba. Setelah perjalanan yang melelahkan, mereka saling membantu mendirikan tenda. Anak-anak diberi tugas menikmati alam dan membuat kelompok. Vita satu kelompok dengan Sasi yang pintar membuat sketsa alam, Nari yang pintar melukis, Mimi yang pintar bermain musik, menyanyi dan menciptakan lagu, sedangkan Vita merasa tidak bisa melakukan apapun. Sasi yang mengajak Vita menyerap energi alam agar menghasilkan karya seni malah diajak bermain game. Sasi menjadi marah dan mengatakan kalau Vita memang tidak layak masuk dalam kelas seni. Vita sendiri juga heran, mengapa dia masuk ke kelas seni. Dia teringat semua ini karena Feris sahabatnya mengatakan kalau dia tidak mengerti seni,maka untuk membuktikan diri Vita masuk di kelas seni. Semua teman Vita pasti sudah memiliki ide, sedangkan Vita belum mendapatkan ide apapun malah bermain game sampai baterai habis. Teman-teman meledeknya.

Saat Vita sedang menyendiri, Nari mendatanginya. Nari bermaksud meminta inspirasi tema untuk lukisannya. Tentu saja Vita tidak bisa. Vita bercerita kepada Nari bahwa sebenarnya dia berada di kelas seni karena diledek oleh Feris. Nari memberi usul kepada Vita untuk jujur kepada Kak Alex. Vita dipinjami kamera oleh Nari untuk berpura-pura memotret alam selama acara perkemahan. Vita sangat senang dan tak terasa waktu bergulir. Saat Vita mengagumi hasil fotonya, dia mendapati Mimi dan Sasi menggunjing tentang Vita yang tak pandai dalam seni. Merasa diremehkan oleh temannya, Vita bersikeras untuk membuktikan bahwa dia dapat menghasilkan karya seni.

​Vita segera mencari cara berfotografi melalui internet. Ternyata ia harus memperhatikan obyek, pesan yang ingin disampaikan, juga pencahayaannya. Ternyata fotografi sangat mengasikkan, Vita sangat bersemangat dan riang. Di depan teman-teman, Nari meminta kembali kameranya. Teman-temannya menjadi marah kepada Nari yang berbaik hati kepada Vita. Vita meminta sedikit waktu lagi untuk dapat memotret kunang-kunang di malam hari. Nari pun menyetujui permintaan Vita. Sebelum menyerahkan kamera kepada Nari, Vita menemui Feris sahabatnya untuk membacking hasil karyanya. Vita takut karya seninya akan dihapus oleh Sasi dan teman-teman.

Saat hari terakhir acara kemah, ternyata Nari memotret teman-temannya menggunakan tablet, bukan kamera. Vita merasa terluka.Vita sangat bingung akan bertahan atau keluar dari kelas seni, karena ia baru menyadari kalau ia menyukai fotografi dan ingin menjadi fotografer. Apapun, Vita akan jujur kepada Kak Alex. Keberanian dan kejujuran, berjalan seiring.

Kak Alex meminta pendapat tentang acara kemah. Semuanya senang dan ingin berkemah kembali. Dan saat diminta untuk menampilkan karya seni yang sudah selesai, Mitcel membacakan puisinya. Vita yang sudah tahu akan kebohongan Mitchel muak dengannya. Tanpa sadar dia berdiri, namun kemudian dia meminta ijin untuk pergi ke kamar mandi. Teman-teman Vita pun geli melihat tingkah Vita. Vita teringat akan pesan nenek misterius  bahwa kejujuran harus disampaikan dengan cara yang tepat dan benar. Jujur juga seiring dengan bijaksana. Seperti halnya pil yang pahit, agar menarik maka perlu dibungkus. Vita pun berniat menegur Mitchel empat mata agar Mitchel tidak malu.

Sayang sekali bukannya berterima kasih, Mitchel justru menertawakan Vita yang menegurnya, karena Vita tukang bohong dan tidak akan ada yang percaya kata-katanya. Vita telah bertekad untuk tidak berbohong lagi. Dia bermaksud untuk berbicara dengan Kak Alex akan keadaan dirinya bahwa dia di kelas seni karena diolok-olok oleh Feris, namun dia menyukai fotografi. Vita pun akan berbicara tentang Mitchel. Sangat membahagiakan bagi Vita, ternyata Kak Alex tetap memperbolehkan Vita berada di kelas seni. Kak Alex memanggil Mitchel, dan kini untuk membuktikan diri, Mitchel mengeluarkan segala kemampuan untuk menghasilkan puisi ciptaannya sendiri.  

Foto hasil jepretan Vita telah dicetak Feris. Feris memberikan hasilnya kepada Vita. Sayang Feris tidak dapat memberi penilaian. Dia mengatakan bahwa Dia tidak mengerti tentang fotografi. Vita semakin mengerti kejujuran seiring dengan kebenaran, keberanian, kebijakan, kesantunan dan tulus hati atau tidak memiliki pamrih apapun dalam hati.

Nari memiliki saudara seorang fotografer yang handal. Nari menawarkan untuk memperlihatkan hasil foto Vita kepada saudaranya. Menurut saudara Nari, hasil foto Vita sangat bagus. Seperti seorang profesional yang memotret karena segala aspek terpenuhi. Vita sangat berbakat, bahkan lebih berbakat dari Nari. Penilaian ini sangat mengecewakan Nari. Nari sedih dan sakit hatinya menerima komentar saudaranya.

Karena sakit hati, Nari membuat penilaian palsu yang diberikan kepada Vita. Vita yang menerima hasil penilaian palsu menjadi sedih dan keluar dari kelas seni. Vita merasa sangat terpukul, suka menangis dan menyendiri. Feris pun mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata diantara foto yang dibuang oleh Vita, ada selembar surat penilaian palsu. Feris mencoba mencari pelakunya dan dia menemukan bahwa pelakunya adalah Nari.

Sebulan kemudian, Feris menemui Vita untuk memberikan kejutan. Saudara Feris ternyata juga seorang fotografer. Hasil foto Vita diikutkan dalam ajang lomba internasional dan menang. Vita sangat senang karena dapat menang secara jujur. Mau tahu, siapa sebenarnya Vita di masa tua, dia adalah guru Vita yang berupaya membantu Vita untuk menjadi pribadi yang jujur.

Kelebihan Buku :

Buku yang sangat bagus. Cerita dalam buku ini sederhana dan sering kita temui dalam kehidupan namun dikemas dengan apik, menarik dan bermakna. Apalagi buku ini penuh dengan gambar berwarna membuat kita tak ingin berhenti membaca.

Kekurangan Buku :

Sangat sulit mencari kekurangan dari buku ini. Hanya ceritanya yang kadang meloncat dan ada kata-kata atau tindakan dalam gambar yang kurang baik, seperti menonjok teman.

Pendapat Penulis :

Penulis tidak memberikan pendapat tentang buku ini, namun penulis memberikan tips-tips dan ulasan untuk belajar tentang kejujuran yang sangat membantu. Sepertinya penulis hanya ingin menegaskan bahwa kita semuanya dapat menjadi pribadi yang jujur.

Hal yang dapat dipetik dari buku ini:

• Jadilah pribadi apa adanya. Di dalam mulut, hati dan pikiran semua berkata sama. Kejujuran itu indah, pun begitu bijaksanalah dalam menyampaikannya.
• Setiap pribadi memiliki talenta. Kenali diri kalian, semangat kembangkan diri, jangan mudah menyerah. Pada saat diremehkan, saat itu kekuatan kita harus menjadi lebih besar. Cayoooo!!

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Alamat

SD MARSUDIRINI ST YOSEPH MUNTILAN

Jalan Kartini no 14-16 Muntilan, Magelang 56411

Tlp : (0293) 585229

Email : sdstyosephmtl@gmail.com

Pengumuman

Diterbitkan :
Misa Perayaan Pelindung SD Marsudirini St. Yoseph
Mari ikut memeriahkan perayaan misa pelindung SD Marsudirini St. YosephSabtu, 19 Maret 2022
Diterbitkan :
Lomba Literasi Bulan Bahasa dan Sastra
Diterbitkan :
Seleksi Kompetensi Sains Nasional Jenjang Sekolah Dasar