Kehidupan di dunia yang begitu keras, menuntut orang harus tabah dalam menjalani kehidupan. Mungkin banyak kejadian yang membuat kita terluka dan mampu memaksa kita meneteskan air mata. Keinginan membuat orang yang kita sayangi bahagia pasti merupakan idaman bagi setiap orang, sehingga ketika melihat orang yang kita sayangi harus menderita dapat membuat seseorang khilaf dalam bertindak. Ambisi yang terlalu berlebih pun dapat menumpulkan hati nurani sehingga seseorang melakukan hal yang tidak terpuji. Hal yang perlu diingat dan direnungkan bahwa setiap langkah dan tindakan kita seharusnya dapat memberikan dampak positif bagi orang-orang sekitar kita. Di waktu sore kita perlu mengambil waktu untuk mengingat dan kemudian merenungkan apa yang kita lakukan dalam sehari. Pernah seseorang, tepatnya Romo Jongbloed, SJ., yang kini bersemayam di Kerkof Muntilan memberikan nasehat kepada saya dan teman-teman PIA untuk merenungkan apa yang kami lakukan hari ini untuk diri sendiri maupun sesama. Jika teringat bahwa hari ini belum melakukan tindakan kasih atau hal yang benar atau disebut dengan korban kecil, lakukanlah itu setidaknya sekali sebelum hari berganti.
Hal yang wajib kita ketahui bahwa setiap manusia sejak lahir dianugerahi akal budi dan hati nurani serta memiliki hak yang paling melekat tidak boleh dilanggar, yaitu hak untuk hidup. Hati nurani merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan sarana bagi Tuhan untuk mewahyukan diri. Hati nurani merupakan sebuah kesadaran yang menghimbau kita untuk melakukan apa yang kita percayai benar dan menahan dari perbuatan yang kita percayai salah. Dengan hati nurani, manusia dapat menentukan baik buruknya segala sesuatu yang dihadapi. Hati nurani merupakan sinyal yang menuntun kita menjadi pribadi yang positif sehingga bijaksana dalam bertindak dan selalu menuntut diri sendiri untuk melakukan hal yang benar dengan demikian tidak melukai orang lain atau diri sendiri. Di dalam Alkitab, hati nurani disebut suneidesis adalah kesadaran moral yang merupakan suara Tuhan di dalam jiwa manusia seperti berbisik dan merupakan alarm yang mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan. Setiap kesalahan yang kita lakukan adalah dosa yang terus menghantui hidup kita jika kita tidak bertobat. Bertobat artinya mengakui kesalahan dan berjanji tidak mengulanginya. Namun demikian, ketika bisikan lembut yang memperingatkan di dalam sanubari kita sering kita abaikan, semakin lama kepekaan untuk mendengarkan suara Roh Kudus atau hati nurani akan tumpul. Tak ada lagi rasa bersalah ketika kita melakukan dosa atau ketika melakukan dosa justru mencari pembenaran atau mencari kambing hitam agar tindakan salah kita dianggap benar. Untuk mengasah hati nurani, kita perlu menghidupi dengan melakukan tindakan kasih sebagai ungkapan syukur kepada Allah yang lebih dahulu mengasihi kita.
Peserta didik SD Marsudirini St. Yoseph, maraknya tindakan kekerasan dan ketidakadilan di dunia ini menengarai matinya hati nurani dan menjadi perhatian serius PBB yang kemudian menetapkan tanggal 5 April sebagai Hari Hati Nurani Internasional. Sejarah dari Hari Hati Nurani menurut sumber National Today berawal dari Perdana Menteri Kerajaan Bahrain Yang Mulia Pangeran Khalifa bin Salman Al Khalifa pada sesi ke-73 Majelis Umum PBB berinisiatif menetapkan 5 April sebagai Hari Hati Nurani Internasional. Majelis kemudian mengadopsi resolusi tersebut dengan judul ‘Promoting The Culture of Peace with Love and Conscience’ atau ‘Mempromosikan Budaya Damai dengan Cinta dan Hati Nurani.’ Resolusi ini mengajak masyarakat membangun budaya damai dengan cinta dan hati nurani sesuai situasi budaya mereka tanpa memandang ras, agama, bahasa maupun jenis kelamin. Hari Hati Nurani dapat kita rayakan dengan mengedukasi diri dan masyarakat tentang pentingnya hati nurani, menyebarkan informasi tentang adanya Hari Hati Nurani Internasional 5 April, dan yang terpenting selalu berbuat baik dan menyebarkan kebaikan di manapun kita berada.
Di Hari Hati Nurani, kita semua diajak untuk merenungkan tindakan kita yang diharapkan menjadi langkah kecil menuju kasih sayang. Membayangkan setiap orang dalam melakukan tindakan didasari dengan rasa cinta dan kepedulian yang tulus dan benar antar sesama manusia pasti akan membawa perdamaian di dunia. Seperti inilah kira-kira visi perdamaian yang dianut oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) dan komunitas global. PBB mempercayai bahwa hati nurani memiliki kekuatan refleksi etis dalam tindakan kasih yang sangat penting untuk mencapai perdamaian global yang bertoleransi dan saling menghormati sehingga dapat hidup berdampingan secara damai dalam berbagai budaya. Promosi dialog dengan menggunakan hati nurani yang menjunjung tinggi martabat manusia berkontribusi bagi pembangunan dunia yang berkelanjutan, harmonis, adil dan inklusif. Untuk itu perlu fondasi kesadaran moral, solidaritas dan tanggungjawab setiap anggota PBB. Momentum pencarian perdamaian modern diperoleh pada saat konggres internasional organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tentang Perdamaian dalam pikiran manusia tahun 1989 di Pantai Gading. Tahun 1999 PBB meresmikan visi ini dengan deklarasi dan program aksi tentang budaya damai. Adapun langkah praktis untuk membangun masyarakat damai antara lain dengan membangun ekonomi dan sosial sehingga tidak timbul ketimpangan, menjaga toleransi dan solidaritas untuk menimbulkan rasa hormat dan pengertian, menjaga hak asasi manusia, mengajarkan pendidikan perdamaian untuk menumbuhkan resolusi konflik, empati kewarganegaraan global dan masih banyak yang lain.
Banyak ayat di dalam Alkitab yang memuat tentang hati nurani, salah satunya ada di dalam Efesus 4:17-20, “Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 4:18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 4:19 Perasaanmereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. 4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Rasul Paulus mengajak kita untuk hidup benar sehingga tidak tumpul hati nuraninya. Ketika hati nurani kita tumpul maka tidak lagi hidup benar melainkan hidup dengan memuaskan hawa nafsu, serakah dan melakukan segala macam kecemaran. Kita harus menjaga hati tetap murni. Menjaga hati nurani agar tidak tercemar oleh dosa kembali dan menjaganya secara konsisten. Cara menjaga hati nurani kita dengan merenungkan dan menyimpan firman Tuhan di dalam hati. Hati nurani yang telah dikuduskan dengan Firman Tuhan akan semakin mengenal Allah sehingga menjadi peka akan kehendak dan rencanaNya dalam hidup kita. Kita juga perlu mengaku dosa di hadapan Allah melalui doa dan percaya darah Yesus mendamaikan kita dengan Allah. Selanjutnya mencari Kerajaan Allah dan kebenaranNya dengan malakukan ibadah, doa, dan terlibat di dalam lingkungan.
Peserta didik SD Marsudirini St. Yoseph Muntilan, tahukah kalian bahwa sejak zaman Bapa Adam dan Ibu Hawa, hati nurani sudah mereka miliki. Saat Hawa tidak menaati perintah Allah dan artinya menentang hati nurani, mereka berdosa dan kehilangan karunia keadilan dan kesucian dari Allah. Dosa Adam dan Hawa menyebabkan kematian moral dan rohani saat itu, sedangkan kematian jasmani pada saat terjadi kematian tubuhnya, karena upah dosa adalah maut. Adam dan Hawa merasa malu bertemu dengan Allah. Hati nurani bekerja dan bersaksi menunjukkan bahwa hukum Allah ada dalam diri manusia. Ketika kita melakukan hal yang tidak benar hati nurani kita pasti berontak. Di dalam Alkitab, Hati nurani yang murni tercatat sebagai salah satu senjata yang ampuh untuk kehidupan rohani dan pelayanan yang berhasil. Hati nurani yang murni merupakan kebebasan batiniah dari roh yang timbul apabila kita tahu apa yang kita lakukan menyakiti Allah oleh pikiran dan tindakan. Hati nurani yang tercemar akan membuat iman seseorang karam. Sebagai manusia, kita jalani kehidupan kita dengan tulus dan ikhlas untuk meluhurkan Tuhan. Menurut Romo Agustinus Sudarisman, Pr., seorang Pastor Paroki Santa Maria Lourdes Sumber yang terletak di lereng Gunung Merapi, ketika kita melakukan segala sesuatu dengan penuh cinta, walaupun sederhana, itulah jalan kesucian. Nah, mari Peserta didik SD Marsudirini St. Yoseph terus mengupayakan hati nurani murni bersemayam di dalam sanubari kalian, berkah Dalem. (Wiwik Lucia)
Sumber:
Tinggalkan Komentar